Married

by: Anjang at: 9/25/2008 06:35:00 PM

Assalamu'alaikum,
dengan memohon rahmat dan ridho Allah SWT, kami bermaksud menyelenggarakan resepsi pernikahan, yang insya Allah akan dilaksanakan pada:
Sabtu, 11 Oktober 2008, pukul 10.00 s.d. 13.00 WIB, di Jebres Tengah RT. 02 RW. 24, Jebres, Solo (S7.55 E110.8537)
dan
Ahad, 12 Oktober 2008, pukul 10.00 s.d. 12.00 WIB, di Gedung Auditorium Kahar Muzakkir UII, Yogyakarta (S7.6876 E110.4186)
Mohon doa restunya.
Wa'alaikum salam.

Anjang dan Dina

Selamat Idul Fitri

by: Anjang at: 9/25/2008 06:31:00 PM



Oh iya, peta navnet edisi mudik sudah bisa didownload di sini

[navigasi.net] Indonesia Map v5.2

by: Anjang at: 8/18/2008 07:18:00 AM

Menyambut Hari Kemerdekaan Negara kita, Akhirnya launching juga pada tanggal 17 Agustus kemarin, peta GPS untuk Garmin yang mencakup wilayah Indonesia, walau belum semua wilayahnya masuk (at least, satu garis di tiap propinsi). Yang cool cari peta ini:

  • Free. Peta ini bisa diunduh tanpa membayar, alias gratis, bahkan tanpa terdaftar sebagai member [navigasi.net]. Bebas dimirror, jadi kalau ada yang sudah berhasil mengambilnya dan meng-upload-nya di tempat lain, boleh-boleh saja. Seperti kata Adminnya,
Saya tidak menutup mata, bahwa server navigasi.net kapasitasnya terbatas sekali. Anda-anda yang sudah berhasil download silahkan upload ditempat lain yang sekiranya mudah diakses oleh orang lain. Lebih baik, bandwidth server navigasi.net digunakan untuk posting bug/saran or upload track/poi yang bisa digunakan untuk mengembangkan peta navigasi.net, daripada stuck karena tidak kuat menampung hit yang "menggila", yang bagi saya tidak ada untungnya kecuali cuman menaikkan rating situs navigasi.net :)
  • Routable. Peta ini memiliki fitur autorouting. Bahkan termasuk di dalamnya, ferryline. Kita bisa routing dari Banda Aceh sampai Lombok. Jadi, kalo ada yang mudik lintas pulau lebaran nanti, cocok ni..
  • Ada Kota Biak.. hehehe.. Sepele, tapi memang hanya ini peta GPS gratisan yang ada Biaknya.

Anda-anda sekalian dapat mengunduhnya di sini. Dan sesungguhnya, kami berharap ada lebih banyak lagi yang turut berperan serta dalam pengembangannya.

Langkah Awal [repost]

by: Anjang at: 8/18/2008 07:13:00 AM

Dua minggu setelah saya tiba di tanah Papua, atau satu minggu setelah saya tiba di Pulau Biak dan mengunjungi Pulau Wundi --Saya ditempatkan sebagai dokter PTT di Puskesmas Wundi, Distrik Padaido, Kabupaten Biak Numfor, Prov. Papua, dan di antara rekan sejawat, saya termasuk yang pertama tiba di tempat penugasan, bahkan sebelum SPMT dari Dinkes Biak jadi--, Saya sudah masuk dalam kegiatan massal "mass blood survey" untuk mendeteksi malaria.

Kegiatan ini sendiri adalah program dari Global Fund. Tujuannya adalah mendeteksi secara massal kasus malaria di Distrik Padaiodo ini, yang masuk dalam wilayah kerja Puskesmas Wundi (P. Wundi, Pai, Nosi, Auki), dan melakukan pengobatan dengan cepat. Targetnya adalah 1000 penduduk, yang harapannya dapat tercapai dalam satu minggu. Menurut Kapuskes Saya, dr. Firman, dari statistik yang didapatnya, penduduk di Distrik ini sekitar 1800-1900 jiwa, jadi targetnya hanya 50% lebih sedikit. Sepertinya mudah. Apalagi, Bapak penyelia dari Dinkes, Pak Ruslan seorang SKM yang berdedikasi tinggi, dan telah melakukan banyak penelitian dan kegiatan survey di bidang penyakit menular, mengatakan bahwa, biasanya dalam satu hari, Beliau dapat memperoleh sampel 1000 sampai 2000. Tapi kenyataan rupanya berbicara lain.

Saya dan dr. Fatur, sesama rekan PTT di Wundi, menerima kepastian kegiatan pada Selasa siang, keesokan harinya, kami bersiap berangkat dengan menggunakan perahu Puskesmas yang berlabuh di Dok di daerah Bosnik. Perahu kayu dengan dua batang kayu panjang di sisi kiri dan kanannya --di sini disebut Johnson, Saya tidak tahu mengapa begitu, mungkin dahulu, mesin yang dipakai adalah mesin bermerk Johnson, mengingat banyak sebutan di Indonesia ini yang memakai gaya bahasa seperti itu, motor biasa disebut Honda, di Jawa orang bule biasa disebut Londo (singkatan dari Belanda), gaya bahasa pars prototo seingat saya namanya-- Perahu ini bermesin 40 PK dengan bahan bakar campuran bensin dan minyak tanah. Bensin dipakai di akselerasi awal, dan setelah perahu melaju, secara otomatis, mesin akan memindahkan pasokan bahan bakarnya ke minyak tanah. Agak mengherankan, mengingat saat ini minyak tanah mahal dan langka. Saya menanyakannya kepada Bashar, sang Motoris (yang mengoperasikan perahu), apakah bisa mesin diatur hanya menggunakan bensin saja. Dia bilang bisa, tapi tidak tahu caranya.

Selain nama-nama di atas, tim kami juga ditambah dua petugas paramedis, satu perawat, James Waimbo, seorang Serui, dan satu Bidan, Annike Morin, asli dari Wundi. Semua petugas turun dalam kegiatan ini, sehingga praktis Puskesmas Wundi tutup selama kegiatan. Ternyata, kegiatan ini juga dilakukan beserta pengobatan massal, Puskesmas Keliling, alasannya: keterbatasan dana.

Kegiatan kami awali di P. Nosi. Terdapat dua desa di sini, Nosi dan Babaruk. Seorang ibu kader sudah menunggu di Pustu Nosi, yang rencananya menjadi tempat kegiatan kami hari itu. Pustu Nosi sendiri memiliki bangunan yang bagus, sayang, petugasnya tidak ada di sana. Kegiatan berlangsung hingga sore, dan ternyata sebagian besar penduduk Babaruk tidak datang, sehingga kami putuskan untuk mendatangi Babaruk saat senja menjelang. Di Babaruk, kami melakukan kegiatan dari pintu ke pintu, karena sepertinya sulit mengumpulkan semua penduduk di satu tempat. Hari itu berakhir di pukul 11 malam. Keesokannya, kami mendatangi P. Pai, yang terdiri dari Pai Imbeyomi dan Pai Inarusdi. Keadaannya tidak lebih baik, karena ternyata masyarakat belum tahu kegiatan ini. Sulit juga. Kami terpaksa menyatroni satu SD, dan beberapa kumpulan massa lainnya untuk melakukan pengambilan darah. Hari itu sudah hari Kamis. Sementara Jum'at, kami harus turun ke kota Biak untuk melaksanakan sholat Jum'at, karena tidak ada masjid di distrik ini. Dan Sabtu akan diadakan kegiatan Seminar untuk para dokter. Tentu saja kami tidak ingin melewatkannya. Kegiatan ilmiah kedokteran di daerah seperti Papua, tentu tidak bisa dibandingkan dengan di Jakarta atau Jawa, yang hampir setiap minggu ada. Di Papua ini, dalam setahun, mungkin jari kita masih terlalu banyak untuk menghitungnya. Praktis, Kamis itu, dan Jum'at pagi esoknya, adalah kesempatan terakhir kami untuk melakukan kegiatan ini. Sehingga kami putuskan melakukan MBS di Wundi malam itu juga, dan menunda Auki pekan depan. Wundi terdiri dari dua desa, Sorina dan Wundi. Kami membagi dua tim, satu ke Wundi dan satu ke Sorina demi untuk mengejar target. Saya sendiri bersama Pak Ruslan dan James ke Wundi. Beruntung, James yang telah dikenal masyarakat dapat melakukan pendekatan dengan baik. Sehingga walaupun dadakan --siapa coba yang mau, malam-malam didatangi petugas, tanpa pemberitahuan sebelumnya, kemudian mencoblosi ujung jari kita dan mengambil darah kita?-- Kami berhasil mendapatkan 100an sampel hingga pukul 1 malam. Tim di Sorina tidak mendapatkan sambutan yang sama. Mereka bahkan sempat bersitegang dengan masyarakat. Kami maklum. Keesokan paginya, kami mencoba menyelesaikan sisanya di Wundi, sebelum kembali ke Biak. Tapi rupanya laut tidak mendukung. Air ternyata surut, dan baru kembali pasang sekitar pukul 3 siang. Masalah untuk kami, karena kami tidak bisa melaut saat air surut. Kepulauan di Padaido ini unik sekaligus indah. Jika dilihat dari atas, P. Auki, Pai dan Nosi terletak memanjang mengitari Wundi dengan deretan reef (karang) di antara ujung Wundi menuju ujung pulau tak berpenghuni di selatan Wundi, kemudian di satu ujung Wundi lainnya, ada satu reef menuju ujung Auki. Dari ujung Auki lainnya ada reef lain ke arah Pai kemudian Nosi. Seperti bulan sabit jika dilihat dari atas, dengan Wundi di tengah. Jika air pasang, kami dapat melewati reef, sementara jika air surut, satu-satunya jalan adalah melewati celah di selatan, yang berarti kami harus memutar. Terlalu lama, sulit, dan berbahaya, karena di luar cincin itu sudah masuk perairan dalam, Samudra Pasifik. Akhirnya kami tidak dapat sholat Jum'at hari itu, tetapi mungkin sisi positifnya, kami dapat menyelesaikan kegiatan di Wundi. Kegiatan di Auki kami lanjutkan pekan depannya.

Dengan semua itu, berapakah yang kami dapat? Hanya 800an jiwa. Tidak mencapai target, dan jauh dari jumlah jiwa di distrik ini. Mass blood survey kehilangan maknanya. Terlalu banyak hambatan dan tantangan di kegiatan kami ini, mulai dari kurangnya sosialisasi, jumlah petugas yang sedikit, dan faktor sosiodemografis lain --penduduk Padaido memiliki mobilitas tinggi, mereka biasa berjualan ikan di pasar Bosnik pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu, mencari ikan di hari Senin, Rabu dan Jum'at, mereka berkumpul semua di hari Minggu yang merupakan hari ibadah, sehingga jumlah jiwa 1800 itu sekedar angka, karena kenyataannya, dalam satu waktu, jarang sekali semua penduduk ada di pulau-- yang sepertinya akan terlihat bagaikan keluh kesah yang panjang. Yup, kita lihat saja. Semoga kegiatan berikutnya dapat lebih baik..

...

by: Anjang at: 7/26/2008 04:32:00 PM

P7230203

Saat matahari dicuri oleh senja, cobalah rebah di pasir dan rasakanlah hempasan riak-riak kecil yang menyentuh kakimu, lalu dengarkanlah seruan ombak yang aku kirimkan.

Nyanyikanlah dengan nafasmu: suara camar, siulan angin, jeritan karang dan amarah ombak yang bergelombang, sampai kau tersadar dan paham akan kerinduanku.

Kini, negeriku adalah harapan dan doa, seruan-seruan hatiku yang memohon pada-Nya agar membawamu kembali padaku, untuk kita bisa merajut lagi hari di atas janji suci.

 

 

 

 

 

 

 

[Pulau Wundi, di suatu sore, seperti biasa]

Biak Routable Map for Garmin

by: Anjang at: 7/20/2008 07:08:00 AM

garmin logo Berawal dari "ketakutan" yang tidak jelas, nyasar di laut (bayangkan saja, Pak Jhon, sang kepala Puskesmas Pasi, pernah terdampar di laut selama 10 hari karena motor perahunya mati, cerita orang-orang sih, dia sampai di Filipina setelah 10 hari itu), akhirnya saya beli Garmin GPS reciever. Alasan lain, pernah, saya ikut kapal SAR Biak yang kebetulan singgah di dermaga Pulau Wundi dalam rangka pencarian seorang nelayan yang hilang (belakangan nelayan itu diketahui ada di Pulau Owi), dan berlayarlah saya ikut operasi pencarian nelayan hilang itu. Waduh, kapok. Ombak Samudera Pasifik benar-benar bikin mabok. Saya duduk bersila sambil memegangi tiang kapal di dek dengan ketinggian sekitar 4-5 meter, dan ombak-ombak itu lewat di atas kepala saya.. Ampuunn..

Tidak jelas, karena kalau dihitung-hitung, Pulau Wundi tidak terlalu jauh dari Pulau Biak. Dan Wundi bukanlah Pulau terluar. Masih banyak pulau-pulau lain yang ada di sekitarnya. Gampang kalau mau cari patokan buat navigasi celeng. Tapi itu kalau mata masih bisa liat. Kalau kabut, atau hujan deras, atau malam hari di bulan gelap, sepertinya sulit buat navigasi. Jadi sesungguhnya, butuh apa tidak sih? Sesungguhnya, relatif. Kalaupun situasi, cuaca, dan kondisi kita tidak siap, siapa juga yang berani melaut?

Ada sih, GPS bluetooh saya, yang kompatibel dengan kedua gadget saya, Nokia E61 dan Audiovox 6600. Tapi, Nokia E61 saya hanya terisi Nokia Maps dan Google Maps. Keduanya butuh sinyal GPRS, karena sambil locate position, dia download citra satelit/map lewat GPRS. Jago dah kalo bisa dapet sinyal di laut.. Belakangan, saya baru tau ada aplikasi Garmin XT buat Symbian (sebelumnya saya hanya tau Garmin Que, yang cuma bisa buat Windows Mobile). Kalau pake garmin, petanya sudah disimpan sebelumnya, jadi tidak menggunakan GPRS untuk download lagi. Audiovox saya, yang bersistem operasi WM 2003 se, sebenarnya lebih mumpuni, ada Garmin Que, Nusa Map, dan satu lagi apa ya (lupa..). Nusa Map juga mapnya udah ada, jadi sama sekali gak perlu GPRS, malah lebih keren menurut saya, karena ada fitur penunjuk arah kiblat. Sayangnya, baterei PDAnya udah busuk. Begitu sampai di Biak, saat makan siang di hari pertama, tiba-tiba do'i mati, dan ke-hard reset (karena baterei cadangannya drop juga, informasi instalasi di PDA itu ikut hilang). Hilanglah semua aplikasi GPS, Skyscape, dan game-game. Sialnya, lupa back-up sebelumnya. Mau minta tolong Mama buat ngirim cd instalasinya, bikin repot aja. Dan, yang terutama, semuanya tidak waterproof maupun water resist.

colorado So, muncullah kebulatan tekad untuk membeli GPS reciever yang water resist dan waterproof. Niat awalnya sih beli Garmin GPSmap 76 csx. Tapi iming-iming penjualnya dan foto-foto review di web bikin ngiler. Hasil akhirnya, Garmin Colorado 300i (tambahan i di belakang, cuma nambah fitur bahasa Indonesia). Kecewa deh pas nyalain pertama. Map yang dikasih penjualnya, ternyata sama sekali gak mumpuni buat Biak. Biak hanya Pulau yang posisinya bergeser beberapa kilo. Apalagi Wundi, gak ada. Lebih kecewa lagi pas search di internet. Gak ada yang gratisan. Ada yang jual peta Papua di otomasi.com, tapi jadi ragu juga dengan kelengkapannya.

Ngiler dengan Bluechart, tapi di otomasi.com bisa sampai 850 ribu rupiah begitu.. Itu pun cuma dikasih unlock code sama link download. Becanda apa? Mau download darimane di Biak cuy? Ada yang lebih murah di apobae.com, tapi prosedurnya sama aja. Si Kokoh Yeyen sama Iwing juga gak jelas gitu, minta diburningin dan dikirimin cd mapnya aja susahnya minta ampun. Ya sudah, pake cara curang. Cara curang juga sama sulitnya ternyata. Download torrent buat garmin bluechart pacific lengkap dengan "jamu"nya ternyata makan waktu 2 minggu lebih. Baru 2 hari yang lalu selesai.

148Untuk laut, masalah selesai. Untuk routable di darat, sepertinya tidak ada cara lain selain buat sendiri. Akhirnya ikutan mapdevelopernya navigasi.net. Sambil mengumpulkan semua resource, bisa juga buat awal. Citra google maps diambil cachenya, terus dibuka pake gpsmapedit, tinggal ngegambar jalan, buat titik-titik lokasi (POI=point of interest) dan poligon area di atas citra satelit tadi. Mirip pelajaran SD lah, gambarnya udah ada, kita tinggal coret-coret di atasnya. Sentuhan akhirnya, dikasih routing, jadi jalan yang tadi udah digambar bisa routing, alias nyari jalan yang paling cepat atau paling pendek (tergantung pilihannya), ke tempat tujuan kita. Dicompile pake cgpsmapper, jadi deh peta garmin dengan format *.img.

Jadi, dijamin, kalo mau peta Biak Routable gratisan buat Garmin GPS baik recievernya, maupun aplikasi di symbian atau PPC macam Garmin Mobile XT atau Garmin Que, cuma ada di navigasi.net deh. Buatan aye (promosi Brur) untuk bagian Biaknya, tapi berhubung ini kerjaan keroyokan orang banyak untuk se-Indonesia, kelihatannya hasil kerja saya gak ada apa-apanya deh dibanding master-master mapdeveloper di sana. Tapi belum launching. Nanti, tunggu tanggal 17 Agustus 2008.

Yang masih bikin penasaran adalah menampilkan gambaran 3D di Colorado ini. Sebenarnya, Garmin Colorado mempunyai fitur 3D view, yang memungkinkan kita melihat suatu lokasi lengkap dengan informasi elevasinya dalam bentuk 3D, jadi beda dengan informasi elevasi dalam peta topografi, konturnya itu benar-benar terlihat naik turunnya. Informasi elevasi ini sebenarnya sudah ada di basemapnya, tapi minim sekali, sehingga tidak memungkinkan kalo dilihat dengan 3D view. Udah ada sih informasi DEM (digital elevation model) buat Biak, tapi, gimana ya caranya mengubah data DEM itu jadi informasi elevasi dalam format *.img? Hmmm...

Bahari

by: Anjang at: 7/19/2008 10:57:00 PM


Ini adalah perahu Johnson bernama Bahari. Milik Bapak Demianus Morin, seorang pensiunan Angkatan Laut, yang saat ini menjadi sekretaris desa Wundi. Dalam hitungan saya, selama Johnson milik Puskesmas Wundi non-aktif, perahu Beliau yang paling sering mengantar saya pulang-pergi pulau-kota, in free charge. Beliau juga sering ngasih ikan kalo kita-kita, para dokter lagi nelangsa kelaparan di pulau.

terima kasih Bapak
Posted by Picasa